Monday, May 10, 2010

Cara Create EOIP Tunnel Pada Router Mikrotik

EOIP tunnel merupakan teknik tunneling propetiary yang dimiliki oleh mikrotik. EOIP tunnel merupakan singkatan dari Ethernet Over Internet Protocol, sehinggan dengan menggunakan EOIP tunnel adalah bertujuan membuat tunnel melalui ethernet antara 2 router yang menggunakan IP connection.

EOIP tunnel dapat digunakan dengan menggabungkannya dengan IP tunnel, PPTP tunnel , maupun jenis tunneling lainnya. Selain itu, dapat juga dikombinasikan dengan jenis pengamanan IP , yaitu IPSec.

Berikut ini beberapa kemampuan yang dapat ditawarkan dengan pemanfaatan EOIP Tunnel :

1. Kemungkinan melakukan bridging LAN melalui internet
2. Kemungkinan melakukan bridging LAN melalui tunnel yang ter-enkripsi
3. Kemungkinan melakukan bridging LAN dengan wireless network

Prinsip kerja EOIP Tunnel :
-> Meng-enkapsulasi frame ethernet pada paket GRE dan mengirimkan paket tersebut melalui tunnel EOIP ke arah sisi remote dari EOIP tunnel (destination tunnel)

Berikut ini adalah konfigurasi yang harus diperhatikan :

1. Buat interface EOIP tunnel.

eoip tunnel

2. Kemudian masukkan remote address berdasarkan ip address yang telah ditentukan sebelumnya, misalnya : 192.xxx.xxx.xxx

3. Lalu tentukan tunnel id. Tunnel id penting untuk dimasukkan karena akan menandai tunnel yang dibentuk termasuk dalam satu area. Kesalahan dalam menentukan tunnel id akan mengakibatkan tunnel EOIP tidak terbentuk.

4. Apply konfigurasi yang telah dibuat.

Dibawah ini adalah gambar yang akan memberikan contoh konfigurasi sederhana dari EOIP tunnel sesuai dengan keterangan diatas :

eoip tunnel 2

Sunday, May 9, 2010

Apa Itu Stakeholder Management?

Pentingnya menerapkan stakeholder managament dalam bisnis maupun proyek adalah sebagai alat pendukung organisasi untuk mencapai tujuan bisnis maupun proyek dengan meng-intepretasikan dan mempengaruhi pihak lingkungan internal dan eksternal, dengan menciptakan hubungan yang kuat antar stakeholder sesuai dengan objective dan ekspektasi yang disetujui oleh masing-masing stakeholder

Stakeholder management adalah suatu proses dan kontrol yang harus direncanakan dan menggunakan prinsip yang mendasar, hal ini bertujuan untuk mendapatkan tingkat komitmen dari para stakeholder yang akan mendukung tercapainya tujuan proyek atau bisnis.

Berikut ini adalah proses yang dilalui dalam melakukan menyiapkan informasi strategi pada stakeholder management :

1. Stakeholder identification : mengidentfikasi stakeholder, baik internal maupuan eksternal organisasi yang berkaitan dengan proyek/bisnis. Dalam ini, mapping sangat diperlukan untuk mengetahui mana-mana saja yang merupakan stakeholder bagi proyek/bisnis.

2. Stakeholder analysis : melakukan analisa terhadap kebutuhan, ekspektasi, otoritas yang dimiliki, serta komitmen dari para masing-masing stakeholder.

3. Stakeholder matrix : memposisikan stakeholder ke bentuk matric untuk mengetahui tingkat pengaruh yang dimilikinya dan akibat yang didapat jika ekspetasi stakeholder tersebut tidak terpenuhi. Jika tingkat interest semakin tinggi maka stakeholder tersebut harus selalu diberi informasi tentang proyek yang berjalan dan jika tingkat pengaruhnya sangat tinggi perlu dipenuhi ekspektasi yang diharapkan stakeholder.

stakeholder

4. Stakeholder engagement : didalam engagement komunikasi dari ekspektasi yang diharapkan didiskusikan secara bersama dan membuat suatu nilai kesepatakan yang akan disetujui bersama

5. Mengkomunikasikan informasi : disini komunikasi dibentuk antar stakholder tentang ekspektasi masing-masing stakeholder yang mana merupakan tingkat detil dari informasi hasil diskusi dari stakeholder engagement. Selain itu, masalah keamanan informasi dan klasifikasi confidentiality nya juga dibuat untuk keperluan pengamanan informasi.

Dari kelima proses diatas maka akan dibuat yang namanya stakeholder agreement. Disini merupakan persetujuan dari komitmen, nilai-nilai yang ditetapkan dalam stakeholder engagement, serta tujuan dari organisasi atau proyek. Dengan kata lain stakeholder agreement merupakan kumpulan dari hasil keputusan ekspektasi stakeholder terhadap organisas atau proyek.

First Mover vs Second Mover

Setiap organisasi memiliki kebijakan masing-masing dalam menentukan strategi yang tepat untuk penetrasi pasar. Dalam menentukan strategi untuk masuk ke dalam pasar bisnis tertentu ada 2 hal yang menjadi pedoman bagi setiap organisasi, yaitu sebagai pioneer atau sebagai pengikut (follower). Kedua kebijakan tersebut mempunyai keunggulan dan kekurangan masing-masing, tergantung bagaimana organisasi menganalisa pasar yang ingin dipenetrasi.

First mover

first mover

sebagai first mover atau pioneer memiliki keunggulan dalam melakukan penetrasi pasar. Disini pangsa pasar masih sangat luas (blue ocean), dan biasanya first mover memiliki untuk melakukan eksploitasi secara besar-besaran dan melakukan monopoli pasar. Hal ini tergantung dari seberapa besar kemampuan organisasi melakukan penetrasi terhadap kesempatan tersebut. Karena jikalau tidak dapat memanfaatkan kesempatan tersebut second-mover sudah melirik pasar tersebut untuk mengambil pangsa pasar. First-mover harus benar-benar dapat mengkapitalisasi kesempatan ini, dengan mengukuhkan posisi sekuat-kuatnya untuk mendapatkan kontrol terhadap reseources sebesar-besarnya.

apa yang menjadi kelebihan sebagai first mover dibandingkan dengan second mover?

1. technological leadership : first mover dapat menjadi pemimpin dalam inovasi teknologi sehingga second-mover biasanya sudah kalah selangkah dalam memenangkan keunggulan kompetitif untuk memenangkan pasar

2. Keunggulan dalam hal switching cost: second-mover biasanya harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk investasi dibandingkan dengan first mover. Hal ini disebabkan second-mover harus melampaui apa yang telah dilakukan oleh first mover, sehingga investasi semakin lebih besar dan harus dapat mengalahkan apa yang telah dilakukan pendahuluny. Biasanya first mover telah mempunyai brand reputation yang lebih unggul dari second mover, maka second mover harus bisa mengubah brand tersebut dengan switching cost yang lebih besar dari first mover

Kekurangan sebagai first mover :

1. free-rider effect : sebagai first mover maka organisasi perlu melakukan inovasi produk dan penelitian (R&D) produk. Jika ada pemain baru yang ingin mengikuti jejak firs-mover maka second mover ini hanya perlu melakukan 'imitasi' terhadap produk first mover lalu menambahkan added value didalamnya sehingga dapat merebut pangsa pasar. Hal inilah yang menjadi tidak untungnya sebagai first mover. Untuk itu perlu bagi organisasi yang sebagai first mover untuk mewaspadai efek free-rider ini.

2. Ketidakpastian pasar : ketidakpastian dalam pasar akan mengakibatkan first mover untuk menanggung semua resiko dalam menjalankannya. Resiko inilah yang akan dimanfaatkan oleh second mover untuk melakukan penetrasi pasar dengan memperhatikan apa yang telah dialami oleh first mover dan melakukan adjustment.

3. Adanya shifting kebutuhan pelanggan : Biasanya second mover melakukan analisa pasar terhadap kebutuhan pasar dan membuat sesuatu yang baru dari produk yang ada saat ini, tujuan perubahan ini adalah mengikuti kebutuhan pelanggan yang dapat berubah setiap saat sehinggan second mover dapat mengambil kesempatan ini untuk menciptakan suatu penetrasi pasar yang baru dan menjadi keuntungannya. Untuk itu, first mover harus dapat beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan dan tidak bersifat statis. Sekali adaptasi tidak dilakukan maka pangsa pasar first mover akan mengalami pengikisan.

Second mover

second mover

Adakalanya menjadi pemenang tidak selalu menjadi first mover dalam industri, second mover dapat menjadi pemenang hanya dengan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh pendahulunya (first mover). Tidak selalu first mover mendapatkan manfaat yang lebih besar dari second mover.

Keuntungan menjadi second mover adalah tidak harus melakukan riset pasar, hanya perlu melakukan 'imitasi' terhadap apa yang telah dilakukan pendahulunya dan membuat kustomisasi terhadap produk sehingga dapat mengambil pangsa pasar dari first mover. Selain itu second mover tidak terlalu memikirkan resiko yang dihadapi, karena semua resiko telah diambil oleh first mover sebagai pioneer, yang perlu dilakukan adalah menyesuaikan terhadap tingkat resiko tersebut.

Namun tidak semua second mover akan berhasil memenangkan persaingan. Ini tergantung dari organisasi yang bergerak sebagai second mover untuk melihat celah yang ada dalam menganalisa pasar, serta meningkatkan kapasitasnya untuk memenangkan persaingan dengan first mover.

Dari perbandingan diatas, menjadi first maupun second mover memiliki keunggulan masing-masing beserta kekurangannya. Untuk itu, organisasi harus 'pandai-pandai' menganalisa pasar dan melihat peluang yang ada.

BSC vs IT BSC ?

Kaplan dan Norton telah menciptakan balanced scorecard yang digunakan pada level enterprise. Pada Business Balanced Scorecard, hal yang paling utama diperhitungkan adalah perspektif finansial, kemudian baru diikuti oleh perspektif customer, internal proses perusahaan dan yang terakhir adalah perspektif pembelajaran dan inovasi (learning and innovation perspective).

Dalam kaitannya dengan IT maka business balanced scorecard memicu adanya IT balanced scorecard, yang mana IT development BSC dan IT Operational BSC digunakan sebagai enabler(penggerak) bagi Enterprises BSC.

Berikut ini adalah komponen-komponen dalam IT balanced scorecard :

IT BSC
(sumber : grembergen)

Dari komponen-komponen didalam IT balanced scorecard, maka kriteria-kriteria tersebut digunakan untuk mencapai suatu IT excellence yang mana akan berkaitan dengan kontribusi IT terhadap bisnis organisasi. Pencapaian dalam setiap komponen tersebut akan meningkatkan membantu organisasi dalam meningkatkan kinerja bisnis.

Dibawah ini adalah relationship cause-effect dalam IT balanced scorecard terhadap Business balanced scorecard :

cause effect it bsc
(sumber : grembergen)

Dari keterkaitan antara IT balanced scorecard terhadap kaitannya dengan performa bisnis organisasi, maka IT balanced scorecard adalah sebuah enabler bagi business balanced scorecard.

bsc enabler
(Sumber:Grembergen)

Evaluasi External Environment dari Organisasi

SWOT analysis merupakan suatu alat evaluasi yang banyak digunakan oleh organisasi dalam menganalisa faktor internal maupun eksternal organisasi. Dalam pembahasan kali ini, lebih pada faktor eksternal organisasi.

Strength/weakness => internal organisasi yang di analisa
Opportunities/Threat => lebih kepada faktor eksternal yang dianalisa

Untuk menentukan suatu strategi yang tepat dalam organisasi maka pemikiran secara strategis dalam persaingan memenangkan pangsa pasar, untuk itu diperlukan cara pandang organisasi yang tepat dalam menentukan strategi yang tepat; Dari pemikiran strategis sampai pada memilih strategi yang tepat bagi organisasi

strategic thinking

External analisis

Dalam prakteknya analisa eksternal ini harus dapat dilakukan untuk mengetaui posisi organisasi dalam industrinya. Untuk itu organisasi memerlukan alat-alat yang dapat melakukan pengkajian terhadap posisi organisasi terhadap eksternalnya. Kedua alat tersebut adalah macro-environmental analysis dan five forces analysis.

macro

Macro environmental adalah alat yang digunakan untuk mengukur faktor-faktor eksternal perusahaan, meliputi :

1. Kondisi ekonomi secara umum dalam suatu negara akan mempengaruhi kebijakan strategi apa yang akan dilakukan oleh perusahaan. Misalnya dalam menganaisa daya beli masyarakat di suatu negara.

2. Masalah regulasi yang diterapkan oleh pemerintah oleh suatu negara harus diperhatikan, 'apakah dapat dimanfaatkan untuk kepentingan organisasi?'.

3. Unsur demografis. Segmentasi yang ingin dituju oleh perusahaan

4. Social environment dan gaya hidup. Organisasi harus dapat meng-identifikasi culture yang ada dalam masyarakat suatu negara, sehingga strategi yang ditentukan dapat masuk ke dalam masyarakat negara tersebut

5. Unsur teknologi. Perkembangan teknologi yang semakin pesat akan menjadi senjata yang ampuh jika dapat diidentifikasi dengan baik.

five

Alat kedua yang digunakan untuk evaluasi eksternal adalah dengan menggunakan metode yang dibuat oleh Michael Porter, yaitu five forces analysis :

1. Adanya bargaining power dari supplier. Perusahaan harus dapat menganalisa kemungkinan adanya ancaman dari para supplier dari kelangsungan bisnis organisasi, sehingga solusi yang tepat untuk mencegah hal tersebut dapat ditentukan dengan tepat

2. Adanya bargaining power dari customer. Organisasi perlu melakukan identifikasi dalam hal ini, hal customer mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kelangsungan bisnis organisasi. Untuk itu diperlukan cara bagaimana mengatasi bargaining power dari customer

3. Selanjutnya adalah potensi ancaman dari pendatang baru. Biasanya pendatang baru akan menjadi follower dari cara yang telah kita lakukan dan menambahkan cara baru yang lebih signifikan dari organisasi. Untuk itu cara mencegahnya adalah selalu aware terhadap potensi pemain baru dalam industri yang digeluti oleh organisasi.

4. Memperhatikan adanya barang substitusi yang dapat menggantikan posisi produk organisasi saat ini.

5. Kompetisi dari kompetitor. Untuk dapat mencegah hal ini terjadi maka diperlukan adanya inovasi produk dan selalu menambahkan added value yang susah ditiru oleh kompetitor dan menjadi keunggulan kompetitif organisasi.

MPLS (Multiprotocol Label Switching)

mpls

MPLS adalah teknik packet forwarding pada jaringan backbone berkecepatan tinggi. Merupakan penggabungan antara circuit switching dan packet switching dan menghasilkan teknologi baru, hasil gabungan kedua teknologi sebelumnya dan lebih baik dari kedua teknologi sebelumnya.

Saat ini provider-provider jaringan data telah banyak mengadopsi teknik pengiriman pake data jenis ini. Dikarenakan MPLS (Multiprotocol Label Switching) lebih fleksibel dan lebih cepat dalam mengirimkan paket data melalui network-network yang berbeda. MPLS

osi mpls

Prinsip kerja MPLS :
1. Menggabungkan kemampuan kecepatan layer 2 switching dan skalabilitas layer 3 routing.
2. Menyelipkan label paket header layer 2 dan layer 3 pada paket yang diteruskan (forwarding packet)
3. Label dihasilkan oleh label switching router dan bertindak sebagai penghubung jaringan MPLS dengan jaringan luar
4. Paket dikirim dengan diberikan label sebagai tanda node untuk tujuan paket yang dikirim ke node selanjutnya, sampai pada tujuan akhir. Paket diteruskan dalam suatu path dalam label switching yang disebut sebagai LSP (label switching path)

Konsep Tunneling

tunnel

Tunneling merupakan suatu bentuk membuat jalur antara beberapa network yang berbeda sehingga paket tersebut dienkapsulasi melewati beberapa router dengan network yang berbeda, seolah-olah hubungan komunikasi terbentuk hanya antara 1 segmentasi network.

Misal ada 4 router seperti pada gambar diatas, maka network A ingin mentransfer pake ke network B. Jika cara biasa dibuat maka paket dari network A harus melewati routing protocol dan melewati 4 jalur dengan network yang berbeda-beda. Namun dengan adanya tunneling pake yang lewat dari paket A ke B akan dianggap seperti berada dalam satu segmentasi IP dan dengan cepat dikirim seolah-olah tanpa adanya routed network. Menyebabkan paket dari network A ke network B dapat secara cepat terkirim.

Tujuan tunneling :

- Mengenkapsulasi paket sehingga paket dapat dikirim melewati network-network yang berbeda secara cepat

- Menyediakan suatu jalur yang aman untuk dilewati paket data.

Tunneling ini sendiri dapat dipadukan dengan IPSec sehingga menciptakan suatu jalur yang benar-benar secure.

SSH Protocol

merupakan sebuah bentuk tunneling yang di-enkripsi melalui SSH protocol connection. Paket dari suatu network yang tidak ter-enkripsi dapat dilewatkan ke network lain dengan jalur yang secure dan ter-enkripsi dengan melalui protocol SSH ini. Sehingga paket data yang lewat didalamnya sekalipun tidak di-enkripsi dapat dengan aman melewati jaringan ke tempat tujuan dan mengurangi resiko di hack oleh pihak yang tidak berwenang.